Kenali Gejala Difteri Pada Anak dan Cara Mengobatinya

gejala difteri

Difteri adalah salah satu penyakit yang menyebabkan terjadinya gangguan selaput lendir hidung dan tenggorokan. Penyakit ini merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang membuat penebalan pada organ tubuh. Pada tahun 2011-2016 fenomena penyakit difteri di Indonesia mencapai 3.353 kasus. Pada akhir tahun 2017 penyakit difteri sempat dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Melihat angka kasus penyakit yang cukup tinggi tersebut, sebenarnya bagaimana gejala difteri itu sendiri?

Difteri sering kali menyerang anak-anak, terutama bagi mereka yang tidak memiliki gizi baik, hidup di kawasan kumuh dan kotor, dan tidak memiliki riwayat imunisasi yang lengkap. Jika penyakit ini menyerang anak-anak perlu untuk segera diobati, karena penyakit tersebut sangat cepat menular ketika terjadi kontak fisik dengan penderitanya, barang yang terkontaminasi bakteri dan juga melalui percikan ludah dari bersin dan batuk yang tanpa sengaja dihirup. 

Gejala Difteri Pada Anak 

gejala difteri
Anak-anak terserang Difteri

Pada umumnya difteri akan muncul sekitar 2-5 hari setelah terinfeksi. Sebagian penderitanya tidak mengalami gejala apapun, namun sebagian lagi mengalami gejala ringan seperti flu biasa. Adapun gejala difteri yang paling khas adalah terbentuknya lapisan abu-abu tebal pada amandel dan tenggorokan. 

Gejala difteri pada anak lainnya adalah terjadi demam, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, hidung meler, meningkatnya detak jantung, suara serak, suara nyaring terdengar saat bernapas, pembengkakan langit-langit mulut dan juga pembesaran kelenjar getah bening di leher. 

Apabila anak mengalami gejala-gejala tersebut, lebih baik segera periksakan ke dokter agar mendapatkan penangan yang tepat sehingga tidak terjadi komplikasi lebih lanjut. Adapun komplikasi yang terjadi akibat difteri adalah saluran pernapasan tertutup oleh tenggorokan sehingga mengancam nyawa, adanya gangguan pada irama jantung dan terjadi peradangan pada otot dan juga katup jantung.

Cara Mengobati Difteri 

gejala difteri
Konsumsi Obat untuk Difteri

Ada banyak cara untuk mengobati penyakit difteri, antara lain :

1. Obat Antibiotik 

Untuk membunuh bakteri penyebab difteri dan mengatasi infeksi dokter akan memberikan obat antibiotik, seperti penisilik atau erythromycin. Antibiotik yang diberikan sangat dianjurkan untuk dikonsumsi sampai habis sesuai resep dokter. Ini dilakukan untuk memastikan jika tubuh sudah bebas dari penyakit tersebut. Biasanya dua hari setelah pemberian antibiotik, penderita sudah tidak lagi bisa menularkan penyakit difteri ke orang  lain.

2. Suntikan Anti Racun

Cara mengobati selanjutnya adalah dengan memberikan suntikan antiracun (antitoksin) untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri penyebab difteri. Sebelum dilakukan suntikan tersebut, pasien harus menjalani tes alergi kulit untuk memastikan adanya alergi atau tidak terhadap anti racun.

Beberapa Langkah Pencegahan Penyakit 

gejala difteri
Imunisasi Mencegah Difteri

Pada dasarnya penyakit difteri bisa dicegah dengan cara imunisasi DPT, yaitu pemberian vaksin difteri yang telah dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis). Jenis imunisasi tersebut termasuk imunisasi wajib yang harus diberikan kepada anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin diberikan pada usia 2,3,4 dan 18 bulan, serta pada usia 5 tahun.

Untuk memberikan perlindungan yang maksimal, vaksin sejenis DPT (Tdap atau Td) akan diberikan lagi pada rentan usia 10-12 tahun dan 18 tahun. Khusus untuk vaksin Td diberikan setiap 10 tahun. Bagi anak-anak  yang berusia dibawah 7 tahun dan belum pernah mendapatkan imunisasi DPT atau belum mendapatkan imunisasi lengkap, bisa diberikan imunisasi kejaran sesuai dengan jadwal yang dianjurkan oleh dokter anak. Sedangkan untuk anak berusia di atas 7 tahun dan belum mendapatkan imunisasi DPT maka akan diberikan vaksin Tdap.

Itulah gejala difteri pada anak dan cara mengobatinya. Semoga informasi di atas bermanfaat untuk pembaca semuanya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *